Perjalanan memang erat dengan tantangan. Dalam hidup pun seringkali kita memilih melalui jalan berbatu dan berkerikil alih-alih jalanan mulus dan mudah untuk melihat seberapa besar kemampuan kita berjuang. Kali ini pun sama, perjalanan panjangku melewati jalanan yang asing dan tidak mulus. Tapi yang kutemui di sepanjang perjalanan, semuanya adalah pelajaran. Aku merasa menarik untuk menunjukkan gambaran jalan-jalan berbatu dan tak mulus itu, jalan menuju desa-desa yang jauh dari kota, desa-desa pinggiran hutan dengan komunitas masyarakat adatnya yang bernama Marga Serampas. Marga Serampas terbagi menjadi lima wilayah desa yaitu Desa Renah Alai, Desa Rantau Kermas, Desa Lubuk Mentilin, Desa Tanjung Kasri, dan Desa Renah Kemumu. Desa-desa yang sulit terdeteksi oleh Google Maps.
MENJELAJAHI TENGANAN PEGRINGSINGAN, DESA BALI TEMPO DULU
Jangan lupa berkunjung sembari belajar tentang kehidupan tradisional ala Bali Tempo Dulu yang perlu dijaga dan dilestarikan. Sembari melakukan pembangunan, kita juga melakukan pelestarian.
Gilimanuk, wilayah paling barat Pulau Bali yang merupakan pintu masuk dari Jawa ke Bali menghadirkan suasana khas akulturasi Bali dan Jawa. Wilayah yang menjadi saksi pulang perginya masyarakat Jawa dan Bali yang merantau ini kerap identik dengan hiruk pikuknya. Para pelancong atau pemudik yang baru saja datang dari Jawa biasanya langsung tancap gas menuju ke pusat wisata Bali.
Sebelum tancap gas, ada baiknya melirik sekilas lalu singgah di tempat yang menawarkan kesunyian, cocok sekali untuk melepas penat. Teluk Gilimanuk.
3 HARI 2 MALAM : Desa Kalong Liud dan Cara Pandang dalam Melihat Kemiskinan
Perjalanan dari Dramaga Bogor menuju Desa Kalong Liud, Kecamatan Nanggung ini bisa ditempuh dengan menggunakan transportasi ikonik kota Bogor, Angkot. Saat itu Bulan Oktober 2016. Saya tidak sendiri melainkan bersama-sama teman seperjuangan di bangku kuliah. Tentu saja pada awalnya kami tidak mengetahui rutenya, tetapi teknologi (GPS) sangat memudahkan perjalanan kami. Dengan perjalanan yang ditempuh sekitar 2 jam kami pun sampai di Desa Kalong Liud. Potensi utama Desa ini tentu seperti yang ada di benak kita saat mendengar kata desa, yaitu Pertanian. Desa, Pertanian, dan Kemiskinan terdengar sebagai suatu hubungan yang lumrah. Karena cara pandang kita adalah memandang desa dari pusat kota, bukan memandang desa dari dalam.
Bahasan disini tampaknya cukup seksi ya? Tentang kemiskinan yang identik dengan pedesaan, ataukah tentang desa yang identik dengan budaya kemiskinan?.
Sebenarnya kemiskinan itu apa sih? Apakah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari? Apakah kondisi perumahan yang tidak layak? Atau di jaman sekarang kita disebut miskin karena tidak memilki smartphone?
Adapula berbagai macam cara masyarakat dalam menghadapi kemiskinan. Ada yang pasrah karena menganggap hidup ini harus diterima apa adanya, ada yang berjuang dan berusaha keluar dari kemiskinan ditengah desakan kepentingan-kepentingan dan akses yang tidak memadai. Jika dilihat dari berbagai literatur, kita bisa menemukan bahwa ada berbagai cara dalam mengukur kemiskinan. Seperti Garis Kemiskinan Sajogyo yang mengukur kemiskinan dengan melihat konsumsi dan pengeluaran setara dengan kg beras. Ada juga ukuran Kebutuhan Fisik Minimum yang melihat seberapa mampunya dalam memenuhi kebutuhan dasar yaitu sandang, pangan, dan papan.
Kembali ke Desa Kalong Liud.
Pagi, siang dan sore kami berjalan-jalan disekitar pemukiman, persawahan, dan sungai untuk "mencari" jejak-jejak kemiskinan menurut mata kami. Sedikit yang ditemukan secara kasat mata. Setelah banyak diskusi, akhirnya kami mencoba memandang kemiskinan di desa itu dari sudut pandang masyarakat desa. Iya benar. Apa yang menurut kita sebagai kategori miskin, belum tentu miskin bagi mereka.
Dan benar saja, setelah kami membuat peta sosial yang mengidentifikasi aset milik warga kemudian mendiskusikannya secara bersama-sama.
Beberapa dari mereka menyampaikan bahwa:
"saya kalau sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja itu sudah mewah. kalau kendaraan, hape sih tidak menjadi ukuran"
"saya merasa miskin karena tidak mampu membayar cicilan motor"
"saya tidak memiliki rumah bukan karena tidak mampu, tapi karena tinggal bersama dengan keluarga mertua"
Dari pandangan ini, kemiskinan memang relatif tergantung cara pandang dan kesepakatan di masyarakat. Tergantung pula dengan strata orang tersebut dalam masyarakat. Tapi, memberikan penyadaran tentang kemiskinan itu juga perlu agar selalu memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik.
Saya sendiri dari awal bahkan sampai pulang pun masih terus berpikir tentang apa yang disebut miskin. Apakah satu-satunya kemiskinan yang ditakuti di dunia ini adalah perkara miskin material?
Pagi di bulan November 2014, dimulai masa yang baru. Pantai Baluk Rening menjadi saksi yang tidak bisu bagaimana orientasi ini menjadi memori. Jangan galau dulu mendengar kata orientasi di masa sekolah, apalagi orientasi pengurus OSIS yang seru abis ini. Masa orientasi untuk pengurus baru tujuannya tidak lain adalah agar kita memiliki satu tujuan satu pandangan yang serasi. Kenapa kita harus serasi dan selaras? Bagaimana mungkin kita bisa bekerja bersama kalau kita tidak saling menyelaraskan diri.
Untuk Manusia: Apa Pesan dari Angsa yang Bijak dan Bunglon yang pintar beradaptasi?
"Manu, setelah sekian ribu tahun agama-agama diturunkan di bumi ini untuk membuat kehidupan kalian damai, bagaimana mungkin bahkan hingga hari ini kalian masih bertanya tentang agama mana yang paling benar dan terbaik? Bahkan kalian bertengkar sampai berperang demi agama. Tidakkah masa selama ribuan tahun itu telah mencerahkan generasi-generasi kalian hingga sadar bahwa agama diciptakan untuk mendamaikan kalian?"
"Manu, apa yang bisa dibanggakan jika engkau baru bisa berubah oleh pengaruh lingkungan? Justru jika kau bisa berubah atas keinginanmu sendiri, itulah perubahan yang menakjubkan. Itulah pertanda bahwa dirimu memiliki karakter. Itulah yang layak membuatmu bangga pada diri sendiri"
Pekerjaan mulia dari mereka yang tampak 'kotor'
Wah betapa hebat dan mulianya pekerjaan dan posisimu. Tapi siapakah sebenarnya dirimu?
"Manu, akulah LALAT"
(terkadang kita lupa melihat kemuliaan yang tersembunyi hanya karena pikiran kita dikotori oleh persepsi sendiri)
kutipan dari Buku "Pesan Langit dan Bumi di saat Semesta Bicara"
Perjalanan ini bukan perjalanan pribadi dengan tujuan jalan-jalan semata. Lebih tepatnya ini perjalanan sebagai perwakilan Bali dalam ajang Duta Sanitasi Nasional bersama teman-teman lainnya juga. Sampai di Jakarta, niat hati ini meresapi dalam-dalam kali pertama menginjakkan kaki di Jakarta. Tapi apa daya, penat dan lelah ini membuat tidak cukup kekuatan untuk itu. Akhirnya perjalanan langsung menuju ke hotel.
Gedung-gedung tinggi di Jakarta bukan main tingginya. Maklumi lah manusia Bali yang tidak pernah melihat gedung-gedung pencakar langit ini. Kenapa? karena di Bali dilarang membangun gedung pencakar langit dengan alasan bahwa tinggi bangunan ini pada filosofi dan konsepnya tidak boleh lebih tinggi dari Pura. Jadi ya tingginya standar saja.





